Saat Bulan Purnama Tiba
by
MIA☺FEBRINA
- 1/15/2011
Aku menangis di dalam kamar, aku tau ini hari ulang tahunku, tapi hari ini adalah tanggal 15, ya! hari ini adalah bulan purnama. Kalian tau, tiap bulan purnama wajahku berubah menjadi jelek. Banyak teman-temanku datang ke rumah untuk memberiku kado, tapi mamaku beralasan aku sedang sakit. Aku memandangi diriku di depan cermin dan menangis sekuat-kuatnya. Banyak tissue-tissue berserakan di lantai kamarku. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis sekuat tenaga.
Bulan purnama sudah berlalu, aku kembali masuk sekolah dan wajahku cantik seperti biasanya, banyak teman-temanku khawatir, karena waktu itu aku sakit. Badanku panas dingin saat ditanya-tanya dengan temanku, tapi aku hanya menggeleng dan menganggukkan kepala saja. Saat pelajaran dimulai, kebetulan yang mengajar wali kelasku sendiri. Aku juga ditanya-tanya dengan guruku. Guruku juga heran, kenapa aku sering sakit-sakitan, padahal aku tidak sakit, hanya saja untuk menutupi rahasia wajahku saat bulan purnama tiba.
Sehabis pulang sekolah, aku dan sahabat baikku pergi ke Mall. Aku tertarik dengan pakaian yang dipakai oleh patung. Tapi, saat kutanya harganya, Waaww.. bikin mata melotot dan mulut menganga. Harganya sama seperti saat kita melihat bajunya, bikin mata melotot dan mulut menganga. Harga baju itu adalah 1 juta rupiah! Itu cuma bajunya aja, belum lagi aksesorisnya. Uangku saja cuma 500 ribu. Ahh.. mikir apa sih aku ini.
Sesampai di rumah, aku langsung mandi. Dan, makan siang setelah habis dari Mall capek mondar-mandir.
"Ma, aku ingin banget beli baju" kataku sehabis mengunyah nasi goreng.
"Ya belilah sayang.. Tinggal beli ajah kok susah".
"Tapi ini bukan sembarang baju, Ma! Baju ini mahal banget".
"Emangnya berapa ?".
"Satu juta, Ma. Please Maa.. aku ingin bangett.." Aku merengek. "Aku janji deh, bakal bantuin Mama melakukan pekerjaan rumah. Sueerr.." Sambungku merayu Mama.
"Ihh, nakal anak Mama, mencoba merayu Mama ya ? yaudah, tapi ingat janji kamu yaa, harus bantu Mama!".
"Oke Ma! Suerr.." Sambil mengikat jari kelingkingku dengan jari Mama. "Makasih ya Mamaku sayangg, Mama baikk dehh".
"Iya Mona sayangg". Aku dan Mama berpelukan erat.
Bel sekolah berbunyi. Aku dan teman-teman segera masuk ke kelas. Seorang guru melangkahkan kaki ke ruang kelasku, kelihatannya guru itu akan memberikan pengumuman. "Anak-anak, diam sebentar! Dua minggu lagi sekolah mengadakan pesta dansa di ruang Aula Sekolah. Setiap siswa wajib mempunyai pasangan. Kalian bebas memilih pasangan. Jam 8 malam harus sudah berada di Aula Sekolah. Terima kasih atas perhatiannya. Ada yang mau tanya ??" Guru itu memutuskan pembicaraannya. "Bu.! Apakah boleh memilih pasangan selain di kelas ini ?" Tanya seorang murid. "Oke. Kalian bebas memilih pasangan". Setelah guru itu melangkahkan kaki ke luar pintu kelas. Suara gemuruh berdatangan sana sini di dalam kelas. Anak-anak sibuk untuk mencari pasangan masing-masing. Tapi, aku hanya diam termenung. Aku teringat, hari itu adalah bulan purnama, aku sangat bingung dan menangis dalam hati.
Pulang sekolah, aku langsung menceritakan semua pengumuman itu pada Mama. Tapi, Mamaku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku harus menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk ke pesta dansa. Tiba-tiba aku teringat dengan pakaian yang dijual di Mall kemaren. Akhirnya, aku dan Mama pergi untuk membeli baju itu.
Sehabis pulang dari Mall, aku langsung mencoba baju itu dan aksesoris yang di belikan Mama tadi. Aku tak menyangka, padahal cuma dipake beberapa jam saja pakaian itu harganya sampai 1 juta ditambah lagi harga aksesorisnya, Mama udah menghabiskan uang 3 juta cuma untuk aku. Astaga, aku nggak sampe kepikiran sejauh itu.
Dua minggu kemudian...
Aku berada di kamar, di depan sebuah cermin dah ada Mama yang menghiasi wajahku. Mama sedang berusaha menghiasi wajahku agar terlihat cantik, tetapi usaha itu sia-sia. Akhirnya, aku memakai topeng untuk menutupi wajahku yang jelek.
Sesampainya di sekolah, aku melangkah menuju ruang Aula Sekolah, terlihat banyak siswa yang berpasang-pasangan dan bersenang-senang, sedangkan aku, bisa apa aku dengan muka jelekku seperti ini ? Aku cuma bisa meratapi nasibku seperti sekarang ini.
Semua siswa sudah berada di dalam Aula Sekolah, tapi hanya aku yang belum ke ruang Aula. Dan ada satu orang cowok yang belum mempunyai pasangan. Ku melangkah tenang di depan pintu Aula, dan seorang cowok menawarkan tangannya padaku, itu artinya dia mengajakku berdansa. Cowok itu adalah Rafel, dia adalah cowok kelasku yang menyukaiku diam-diam, meskipun dia merahasiakannya, aku tetap tau dia menyukaiku. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku menerima ajakannya. Setelah selesai berdansa dengan pasangan masing-masing. Seorang cowok yang mengajakku berdansa itu menyuruhku melepas topengku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku sangat takut, mataku berkaca-kaca, "Ya Tuhan, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ? Bisa-bisa rahasiaku terbongkar" Kataku dalam hati. Tiba-tiba, ada siswa perempuan yang tidak sengaja menyenggolku dan akhirnya topengku terlepas. Saat itu air mata mulai membasahi pipiku. Aku sangat malu, semua siswa melihat wajahku. Aku lari dengan cepat dan menangis. Rafel mengejarku. Aku langsung masuk ke rumah tanpa salam dan tidak menghiraukan omongan Mamaku. Aku menangis di dalam kamar, pintu kamar ku kunci, horden jendela ku tutup rapat-rapat. Aku menangis di atas ranjang dengan posisi terlentang ke bawah, aku memeluk bantal guling. Aku sangat bodoh, semua rahasia tentang wajahku terbongkar.
Rafel masuk ke rumahku dan mengucapkan salam. Mamaku mengijinkannya masuk. Rafel dan Mama sedang berbincang-bincang.
"Tante, apa yang terjadi dengan Mona ?"
"Ini sebuah rahasia besar Rafel, kamu tau, kalau rahasia ini terbongkar, dia bisa-bisa menangis sehari semalam tak henti-henti. Tapi, sekarang rahasia itu sudah terbongkar. Saya bisa jelaskan semua ini bagaimana bisa terjadi. Begini, dulu saat bulan purnama, Mona dilahirkan dengan muka yang sangat jelek. Dan pada saat itulah Papanya Mona meninggal karena kecelakaan. Saya pasrah, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, saya hanya bisa tiduran di ranjang rumah sakit dan belum terlalu sehat. Setelah 1 tahun kemudian, wajahnya Mona sangat cantik seperti putri dari bangsawan, saya heran bahkan amat heran sampai-sampai saya tidak menyangka bahwa dia itu anakku. Akhirnya, saya bawa Mona ke Dokter spesialis. Katanya, setiap bulan purnama tiba, muka Mona kembali saat dia lahir, karena mengingatkan kematian Papanya, wajah Papanya Mona itu juga jelek, tetapi saya sangat menyayanginya. Sampai sini, pasti kamu sudah mengerti".
"Ooh, jadi begitu ya tante, maaf saya sudah membuat Mona menangis" Rafel menyesali perbuatannya.
"Yaa, sekarang saya tidak tau bagaimana merawatnya, pintu kamarnya saja dikunci, bagaimana bisa masuk. Oo iya, jangan bilang siapa-siapa tentang rahasia ini, meskipun rahasianya sudah terbongkar. Ini adalah rahasia yang amat besar."
"Iya tante, saya janji tidak akan memberi tau pada siapa-siapa"
. . . TAMAT . . .
Maaf kalo jelek, dann makasih yang udah mau baca =D
Bulan purnama sudah berlalu, aku kembali masuk sekolah dan wajahku cantik seperti biasanya, banyak teman-temanku khawatir, karena waktu itu aku sakit. Badanku panas dingin saat ditanya-tanya dengan temanku, tapi aku hanya menggeleng dan menganggukkan kepala saja. Saat pelajaran dimulai, kebetulan yang mengajar wali kelasku sendiri. Aku juga ditanya-tanya dengan guruku. Guruku juga heran, kenapa aku sering sakit-sakitan, padahal aku tidak sakit, hanya saja untuk menutupi rahasia wajahku saat bulan purnama tiba.
Sehabis pulang sekolah, aku dan sahabat baikku pergi ke Mall. Aku tertarik dengan pakaian yang dipakai oleh patung. Tapi, saat kutanya harganya, Waaww.. bikin mata melotot dan mulut menganga. Harganya sama seperti saat kita melihat bajunya, bikin mata melotot dan mulut menganga. Harga baju itu adalah 1 juta rupiah! Itu cuma bajunya aja, belum lagi aksesorisnya. Uangku saja cuma 500 ribu. Ahh.. mikir apa sih aku ini.
Sesampai di rumah, aku langsung mandi. Dan, makan siang setelah habis dari Mall capek mondar-mandir.
"Ma, aku ingin banget beli baju" kataku sehabis mengunyah nasi goreng.
"Ya belilah sayang.. Tinggal beli ajah kok susah".
"Tapi ini bukan sembarang baju, Ma! Baju ini mahal banget".
"Emangnya berapa ?".
"Satu juta, Ma. Please Maa.. aku ingin bangett.." Aku merengek. "Aku janji deh, bakal bantuin Mama melakukan pekerjaan rumah. Sueerr.." Sambungku merayu Mama.
"Ihh, nakal anak Mama, mencoba merayu Mama ya ? yaudah, tapi ingat janji kamu yaa, harus bantu Mama!".
"Oke Ma! Suerr.." Sambil mengikat jari kelingkingku dengan jari Mama. "Makasih ya Mamaku sayangg, Mama baikk dehh".
"Iya Mona sayangg". Aku dan Mama berpelukan erat.
Bel sekolah berbunyi. Aku dan teman-teman segera masuk ke kelas. Seorang guru melangkahkan kaki ke ruang kelasku, kelihatannya guru itu akan memberikan pengumuman. "Anak-anak, diam sebentar! Dua minggu lagi sekolah mengadakan pesta dansa di ruang Aula Sekolah. Setiap siswa wajib mempunyai pasangan. Kalian bebas memilih pasangan. Jam 8 malam harus sudah berada di Aula Sekolah. Terima kasih atas perhatiannya. Ada yang mau tanya ??" Guru itu memutuskan pembicaraannya. "Bu.! Apakah boleh memilih pasangan selain di kelas ini ?" Tanya seorang murid. "Oke. Kalian bebas memilih pasangan". Setelah guru itu melangkahkan kaki ke luar pintu kelas. Suara gemuruh berdatangan sana sini di dalam kelas. Anak-anak sibuk untuk mencari pasangan masing-masing. Tapi, aku hanya diam termenung. Aku teringat, hari itu adalah bulan purnama, aku sangat bingung dan menangis dalam hati.
Pulang sekolah, aku langsung menceritakan semua pengumuman itu pada Mama. Tapi, Mamaku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku harus menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk ke pesta dansa. Tiba-tiba aku teringat dengan pakaian yang dijual di Mall kemaren. Akhirnya, aku dan Mama pergi untuk membeli baju itu.
Sehabis pulang dari Mall, aku langsung mencoba baju itu dan aksesoris yang di belikan Mama tadi. Aku tak menyangka, padahal cuma dipake beberapa jam saja pakaian itu harganya sampai 1 juta ditambah lagi harga aksesorisnya, Mama udah menghabiskan uang 3 juta cuma untuk aku. Astaga, aku nggak sampe kepikiran sejauh itu.
Dua minggu kemudian...
Aku berada di kamar, di depan sebuah cermin dah ada Mama yang menghiasi wajahku. Mama sedang berusaha menghiasi wajahku agar terlihat cantik, tetapi usaha itu sia-sia. Akhirnya, aku memakai topeng untuk menutupi wajahku yang jelek.
Sesampainya di sekolah, aku melangkah menuju ruang Aula Sekolah, terlihat banyak siswa yang berpasang-pasangan dan bersenang-senang, sedangkan aku, bisa apa aku dengan muka jelekku seperti ini ? Aku cuma bisa meratapi nasibku seperti sekarang ini.
Semua siswa sudah berada di dalam Aula Sekolah, tapi hanya aku yang belum ke ruang Aula. Dan ada satu orang cowok yang belum mempunyai pasangan. Ku melangkah tenang di depan pintu Aula, dan seorang cowok menawarkan tangannya padaku, itu artinya dia mengajakku berdansa. Cowok itu adalah Rafel, dia adalah cowok kelasku yang menyukaiku diam-diam, meskipun dia merahasiakannya, aku tetap tau dia menyukaiku. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku menerima ajakannya. Setelah selesai berdansa dengan pasangan masing-masing. Seorang cowok yang mengajakku berdansa itu menyuruhku melepas topengku. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku sangat takut, mataku berkaca-kaca, "Ya Tuhan, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ? Bisa-bisa rahasiaku terbongkar" Kataku dalam hati. Tiba-tiba, ada siswa perempuan yang tidak sengaja menyenggolku dan akhirnya topengku terlepas. Saat itu air mata mulai membasahi pipiku. Aku sangat malu, semua siswa melihat wajahku. Aku lari dengan cepat dan menangis. Rafel mengejarku. Aku langsung masuk ke rumah tanpa salam dan tidak menghiraukan omongan Mamaku. Aku menangis di dalam kamar, pintu kamar ku kunci, horden jendela ku tutup rapat-rapat. Aku menangis di atas ranjang dengan posisi terlentang ke bawah, aku memeluk bantal guling. Aku sangat bodoh, semua rahasia tentang wajahku terbongkar.
Rafel masuk ke rumahku dan mengucapkan salam. Mamaku mengijinkannya masuk. Rafel dan Mama sedang berbincang-bincang.
"Tante, apa yang terjadi dengan Mona ?"
"Ini sebuah rahasia besar Rafel, kamu tau, kalau rahasia ini terbongkar, dia bisa-bisa menangis sehari semalam tak henti-henti. Tapi, sekarang rahasia itu sudah terbongkar. Saya bisa jelaskan semua ini bagaimana bisa terjadi. Begini, dulu saat bulan purnama, Mona dilahirkan dengan muka yang sangat jelek. Dan pada saat itulah Papanya Mona meninggal karena kecelakaan. Saya pasrah, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, saya hanya bisa tiduran di ranjang rumah sakit dan belum terlalu sehat. Setelah 1 tahun kemudian, wajahnya Mona sangat cantik seperti putri dari bangsawan, saya heran bahkan amat heran sampai-sampai saya tidak menyangka bahwa dia itu anakku. Akhirnya, saya bawa Mona ke Dokter spesialis. Katanya, setiap bulan purnama tiba, muka Mona kembali saat dia lahir, karena mengingatkan kematian Papanya, wajah Papanya Mona itu juga jelek, tetapi saya sangat menyayanginya. Sampai sini, pasti kamu sudah mengerti".
"Ooh, jadi begitu ya tante, maaf saya sudah membuat Mona menangis" Rafel menyesali perbuatannya.
"Yaa, sekarang saya tidak tau bagaimana merawatnya, pintu kamarnya saja dikunci, bagaimana bisa masuk. Oo iya, jangan bilang siapa-siapa tentang rahasia ini, meskipun rahasianya sudah terbongkar. Ini adalah rahasia yang amat besar."
"Iya tante, saya janji tidak akan memberi tau pada siapa-siapa"
. . . TAMAT . . .
Maaf kalo jelek, dann makasih yang udah mau baca =D