CraYon MicHa

by - 1/08/2011


     Gadis cilik itu meringkuk ketakutan dipojok kamar. Napasnya berulang kali naik turun. Rambutnya telah dibasahi oleh keringat. Ceceran krayon berserakan di lantai kamar. Malam menebarkan kegelapan menyelimuti rumah itu. Hening senyap. Udara jahat melambai-lambai, menimbulkan suasana yang ngeri.

     Seorang perempuan berjalan tenang menuju sudut kamar. Ia berjongkok. Bibirnya menyeringai penuh kebencian.

     "Hai gadis cacad tolol. Sekarang saatnya. Hanya kita berdua. Tenang sayang... Aku tak akan menyakitimu. Kau putri kesayangan suamiku. Aku tak tega melakukannya. Dengar, kau menyayangi semua krayonmu, bukan ? Sekarang, kau akan menyatu dengannya. Makan krayon itu, Micha. Semuanya, nggak boleh makan nasi. Atau aku, dengan terpaksa akan mengeluarkanmu dari rumah ini."

     Micha mendongak. Bibirnya bergetar menatap Jesi, ibu tirinya. Jesi masih menatap Micha dengan muka kejahatan. Micha kembali menunduk. Dengan lugu, tangannya meraih krayon merah di pangkuannya, lalu melahapnya tanpa ampun. Tiga hari kemudian, Micha tergeletak di sudut kamar dengan mulut berbusa. Gadis berusia 13 tahun itu tewas.


3 Tahun Kemudian <tiga anak SMU>

     Yesi bersingut nggak nyaman di kursi. Seolah ada bisul segede kentang di pantatnya. Berkali-kali bibirnya bergumam "Aduh". Sementara itu, kedua temannya, Lula dan Cila sibuk adu argumen. Yesi memperhatikan keduanya bergantian.

     "Kita mau menang, nggak ? Kalau mau, ya harus buat beda dari yang lain dong." Kata Lula sambil menggerutu.

     "Oke, tapi kalau bikin film kayak gitu kan ngambil gambarnya mesti malam. Kamu mau malam-malam tinggal di sana ? Gila apa! Rumah angker gitu!" Cila berkomentar.

   "Kalau rumahnya di bukit dan sepi, wajar kita takuti. Tapi rumah itu kan ada di kompleks perumahan. Ngapain juga takut. Kalau ada apa-apa tinggal teriak. Toh, kita di sana juga nggak lama. Paling dua jam."

     "Hah?!?! Dua jam ??? itu lama, La!!" Yesi yang kaget mendengar perkataan temannya itu. Sementara itu, Lula hanya cuek dan tidak menghiraukan perkataan temannya.

     Cila menghela napas. Jelas dia tidak setuju. Tapi bingung harus diungkapkan dengan cara apa lagi agar Lula ngerti.

     "Yesi, Cila, aku cuma pengen menghasilkan karya terbaik. Saingan fastival film pendek ini ketat. Aku nggak pengen kita terdepak sia-sia." Lula berusaha meyakinkan.

     Akhirnya, Cila manggut-manggut. Sepertinya kali ini dia mulai setuju. Sementara Yesi, dia lagi-lagi mendesah sambil mengedikkan bahu pasrah. Intinya sih dia setuju. Tapi beraaat banget mau ngomong. Lula sudah cukup bisa membaca persetujuan kedua temannya. Nggak peduli mereka ngerasa keberatan atau tidak.

     "Oke. Kita mulai nanti malam, jam sembilan di rumahku. Kita berangkat bareng ke Jalan Ijen nomor 12A."

     Keputusan telah ditetapkan. Nggak ada lagi yang bisa menolak. Baik Cila maupun Yesi tak lagi memiliki pilihan.

     Ketiga cewek kelas XII SMU itu akhirnya tiba di depan sebuah rumah besar berpagar hitam. Situasi jalanan masih ramai. Kondisi rumah juga enggak seseram yang digosipin masyarakat. Bangunannya masih kokoh, cat dindingnya masih lumayan bersih, meski sedikit menggelembung di sana-sini karena terpaan angin atau hujan. Yang bikin nyali ciut adalah rumput halaman yang menyembul tinggi tak karuan di halaman, plus tak ada satu lampu pun menyala di sana.

     "Apa nggak dikunci ?" bisik Yesi. Suaranya bergetar menahan ngeri.

     "Kita masuk ajah. Kita liat dulu, Yuk." ajak Lula mantap. Tangannya dengan sigap membuka pengait pagar. Suara derit besi membuat Yesi harus menahan napas.

     "Cila, handycam-nya mulai diaktifin ya..."

     Cila menurut. Dalam hati dia merutuk karena harus berurusan dengan tempat angker itu. Ketiganya terus melangkah. Begitu menapaki teras, Lula melenggang hendak membuka pintu. Di luar dugaan, engsel rumah tersebut sudah rusak. Jadi cukup didorong sedikit pakai tangan langsung terbuka. Tiga cewek itu masuk. Lula paling depan, lalu Yesi, dan Cila yang bertugas sebagai cameramen berada paling belakang.

     Lula menyalakan lampu LED. Udara pengap menyergap. Sarang laba-laba bergelantungan di pojok ruangan. Perabotan tampak kusam tertutup debu. Mereka terus melangkah, memasuki ruang tengah. Ada televisi retak, sofa berwarna kelabu, dan...

     "La! Ada gambar di tembok sebelah sana, tuh" bisik Cila sambil menunjuk ke arah tembok di seberang televisi. Lula menyorotkan lampu LED-nya ke sana.

     Cila benar. Ada gambar nggak jelas tertoreh di sana. Mereka mendekat. Warna merah dan biru terlihat dominan di setiap coretan.

    "Kayaknya... Bisa dibaca, deh. Bentuknya seperti tulisan, tapi masing-masing huruf diukir begitu rumit," gumam Yesi.

     Lula berdehem. Lampu LED-nya meneliti tembok tersebut. "Aku... di ka-mar... Bela-kang... Po-jok..." Yesi membaca lirih.

     "Ya! Yesi! Cerdas! Kita ke kamar itu sekarang." Lula nggak mau buang kesempatan.

     Lula berbalik. Sorot lampu-lampu LED kini beralih menerangi lorong menuju ruangan di belakang ruang tengah. Ternyata setelah ruang tengah, ada tiga kamar. Lula memimpin langkah menuju kamar paling pojok, paling belakang. Tangannya meraih gagang pintu, lalu memutarnya perlahan.

     Yesi makin gelisah. "La, aku takut nih. Kita balik ajah, yuk." rajuknya.

     "Ssstt! Sebentar lagi Yes. Habis itu kita pulang."

     Pintu kamar terbuka. Lembaran kertas bertebaran di lantai. Kamar itu berbau apek. Berbeda dengan situasi di ruangan sebelumnya, kondisi di dalam kamar jauh terlihat berantakan. Mendadak Cila memekik menahan napas.

     "Ada gambar baru muncul di tembok. Dekat meja belajar. Itu di pojok. Padahal tadi nggak ada." seru Cila.

     Bukannya takut, Lula malah mendekati sisi meja belajar. Yesi yang berdiri agak jauh di belakang terbelalak menatap gambar tersebut. "Aku di sini. Duduk. Mengunyah krayon. Aku ingin ikut kalian para sahabatku."

     Napas Yesi memburu. "Aku mau keluar! Ayo Cil! Aku mau pulang!" Yesi panik. Ia menarik-narik tangan Cila.

     "Bentar dong Yes. Belum juga kebaca." cetus Lula.

     "Aku udah baca, La! Kalau kamu nggak mau, aku keluar sendiri! Gila!" teriak Yesi histeris.

     "Oke oke. Kita keluar sekarang." tukas Lula tajam.

Yesi berkali-kali melirik jam tangannya. Udah jam setengah dua belas malam. Mana masih mampir ke tempat Lula buat ngambil motor... Trus pulang ke rumahnya? Sendiri donk. Haduh, nggak deh...

     "Cil, aku tidur di tempatmu ya? Takut nih pulang sendiri."

     "Iya." sahut Cila seraya tersenyum sambil menoleh ke jok belakang, tempat duduk Yesi.

     "Besok kalau mau ke situ lagi, mending pulang sekolah ajah, La. Takut ah, malam-malam," Cila mulai melancarkan aksi protes tingkat rendah.

     Lula menatap lurus ke jalanan. Seolah pertanyaan Cila barusan tak berpengaruh terhadap konsentrasi nyetir.

     "Lihat besoklah," jawab Lula pendek.

     Cila nggak berani lagi berkomentar. Mungkin Lula lelah. Atau kecewa karena rencananya gagal total malam ini. Ketiga remaja itu membisu. Mendadak Lula membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket 24 jam.

     "Mau beli apa? Sini biar aku ajah yang beli," Cila menawarkan diri. Sok basa-basi setelah tadi merasa nggak enak karena berani protes kecil-kecilan.

     "Nggak usah, cuma bentar kok."

     Lula mematikan mesin mobil. "Kok dimatiin La? Kan, cuma bentar," Tanya Yesi.

     Lula nggak menjawab. Dia hanya tersenyum sekilas lalu melangkah pergi. Cila dan Yesi menunggu. Berkali-kali mereka menguap. Tak lama kemudian Lula kembali. Tangannya menenteng kresek putih transparant. Cila yang melihat pertama kali isi kantong plastik di tangan Lula.

     "La, krayon itu... Buat apa?" tanya Cila sedikit was-was.

     Lula diam. Tangannya meraih kotak krayon lalu membuka segelnya. Dalam kebisuan dia mulai membuat gambaran di kaca depan mobil. Tangannya bergerak lincah. Yesi dan Cila duduk tegang. Napas mereka tercekat, mata mereka melotot.

     "La? Kamu ngapain sih?" tanya Yesi panik.

     Lula mengikik lirih. Tangannya terus bergerak. Kaca mobil mulai penuh dengan gambar tak berbentuk. Perasaan Cila mulai nggak enak. Ia hendak membuka pintu mobil.

     "Jangan! Jangan pergi! Kalian bertiga adalah sahabatku! Temani aku! Kita habiskan krayon-krayon ini!" cetus Lula dingin.

     Cila dan Yesi merasa tubuh mereka kaku. Lula berhenti membuat gambar. Ia menoleh pada keduanya bergantian. Bibirnya menyeringai penuh misteri. Cila dan Yesi menggelinjang di tempat duduknya, tak bisa berbuat banyak.

     "Kita makan sekarang krayon-krayon ini. Jangan coba-coba lari. Nggak ada jalan keluar lagi. Kalian adalah sahabatku," bisik Lula. Suaranya datar namun mampu membuat bulu kuduk merinding.

     Cila dan Yesi menggigit bibir ketakutan. Lula memencet tombol "lock" di kunci mobilnya. Pintu mobil pun terkunci otomatis. Mereka terkurung. Seperti kata Lula, nggak ada lagi jalan keluar.



. . . : :TAMAT : : . . .

You May Also Like

0 COMMENTS