Cry Love
Februari dan cinta seperti aku dan sifat cengengku. Maksudku, keduanya tak bisa dipisahkan. Februari selalu berkaitan dengan cinta dan aku selalu diikuti dengan hobiku yang gampang nangis. Uh, aku memang cengeng. Aku harus mengakui itu.
Semua hal bisa membuatku menangis kalau sudah berkaitan dengan suasana mengharukan, baik haru karena bahagia atau sedih. Novel drama romantis, film tragedi, bahkan mendengar orang bercerita dengan nada sedih atau bahagia sudah membuatku menitikkan air mata. Tak sekedar terharu. Tapi menangis. Benar-benar menangis.
"Wah, lo sangat sensitif"
"Itu artinya perasaan lo sangat lembut, lo cewek sejati"
"Kayaknya kadar air mata lo kebanyakan, deh"
"Lo pinter bener ya, cari perhatian dengan air mata palsu lo"
"Capek gue cerita ama lo. Baru mulai aja, lo udah nangis tersedu-sedu kayak gue pukulin"
Dari pujian sampai keritikan pedas aku terima gara-gara air mataku yang gampang menetes ini. Aku bukannya bangga dengan kecengenganku ini. Apa yang dibanggakan dari hobi menangis? Hobi tertawa jelas membuat wajah lebih awet muda. Lha menangis? Cepat tua mungkin, sama seperti kalau kita marah-marah. Meski tidak bangga, aku juga tidak membenci hobi menangisku. Tepatnya tidak bisa. Karena aku memang tak bisa menghindarinya.
Tapi... sepertinya kali ini aku akan bermasalah dengan air mataku. Aku nggak ingin di saat istimewa seperti Valentine ini, aku kehilangan momen istimewa gara-gara menangis yang nggak jelas karena kecengenganku.
"Lo lagi mikir apaan?" Dicky mengagetkanku.
"Lo habis nangis ya?" sambungnya lagi sambil memperhatikan wajahku. Sudah gila anak ini. Jelas-jelas wajahku sedang cerah ceria, bisa-bisanya dia menuduhku habis menangis.
"Kenapa bengong?" tanya Dicky lagi.
"Siapa yang bengong?" Aku menjawab sebal. Orang sedang berbunga-bunga kok dibilang bengong.
"Ya deh, nggak bengong. Ngelamun. Lo ngelamunin siapa, sih? Bisma ya?"
Aduh, nama itu! Nama yang bikin aku deg-degan disebutkan dengan asal-asalan sama Dicky.
"Ya, kan?" Dicky puas melihat kekagetanku.
Aku memang lagi mikirin dia. Tadi malam dia menelpon, mengajakku makan malam besok, pas hari Valentine bersama keluarganya. Aku jelas kegirangan. Sebulan ini kami dekat karena dia menjadi tetangga baru sebelah rumah dan menjadi kakak kelasku yang baru juga di sekolah. Aku menyukainya. Dan ajakan makan malamnya membuatku ge-er setengah mati. Mungkinkah dia akan "nembak" aku di makan malam spesial itu?
"Apa sih yang bikin lo ngelamun? Harusnya happy dong, malam Valenine diner bareng dia" Ah, Dicky selalu tau apa yang aku rasakan.
"Gue takut nangis" akhirnya aku berterus terang.
Dicky melongo. Dua detik, lalu tertawa terbahak-bahak. Aku tidak suka reaksinya. Sangat menyakitkan.
"Eh, sorry-sorry... jangan marah, Mi. Please, maafkan gue kalau gue nekat tertawa di atas penderitaan lo. Habis, lo lucu banget! Kenapa lo takut nangis? Bukannya lo justru bakal tertawa karena bahagia? Aneh juga lo" Dicky berusaha keras menahan tertawanya.
"Emang lo ngebayangin apaan?"
"Gimana kalau tiba-tiba dia nembak gue?"
"Hah? Ya lo bilang I do dong! Kenapa lo jadi tolol gitu sih?"
"Maksud gue, suasana itu pasti akan romantis banget, kan lo tau gue suka nangis dengan suasana begitu"
"Ya... lalu?" Wajah Dicky tampat bingung. Aduh, masa dia nggak ngerti sih?
"Iya, masalahnya, nangisnya gue kan nggak hanya dua menit. Tapi lama, lamaaaa... menurut lo itu nggak masalah? Menurut lo, itu nggak bikin Bisma bete? Ntar dia ilfil lagi sama gue"
"Iya ya, lo kan kalo udah nangis kan nyebelin, udah lama, trus ngabisin tisu, trus muka lo jelek banget deh, dan Bisma pasti bakal ninggalin lo, patah hati deh lo" Dicky tiba-tiba judes. "Eh, denger ya, lo tuh nggak penting banget mikirin itu. Lagian dia juga harus terima kalo lo tuh emang cengeng. Kalo dia ilfil gara-gara itu, berarti dia bukan cowok yang patut lo perjuangkan!" Suara Dicky melengking, membuat suasana kelas langsung senyap.
"Siapa cowok itu, Mi?" Suara Bisma tepat di belakangku. Aku tak berani menoleh. Sejak kapan dia ada di sini? Wajahku langsung memerah. Malu. Oh, tidak, tidak seperti ini yang aku bayangkan. Aku menatap Dicky dengan panik, meminta bantuannya. Dicky tersenyum.
"Menurut lo?" Dicky mengedipkan sebelah matanya. Aku tidak tau reaksi Bisma. Tapi, seluruh kelas langsung batuk-batuk tak jelas sambil menatapku yang masih tegang. Oh Tuhan, aku malu sekali.
"Sampai besok malam ya..." kata Bisma pelan sambil mencolek pelan bahuku. Anak-anak langsung bersuit-suit heboh.
Ada yang bergejolak di dadaku. Tangis pun pecah. Antara bahagia melihat reaksi Bisma yang menyenangkan hatiku dan rasa malu karena semua teman tau isi hatiku.
Malam itu sudah berlalu, aku dan Bisma akhirnya jadian. Aku sudah menduga, malam itu aku menitikkan air mata saat Bisma menembakku. Tapi, Bisma mengerti dengan hobiku yang cengeng. Dan Bisma mendekatkan badannya ke kepalaku.
Sekian cerita dari saya. *romantis banget yah? tapi aku nggak suka suasana romantis* wuakakaakak. Cerpen ini cuma karangan saja. Tidak nyata. *tapi pengennya nyata* hahahah..
Dan, makasih yang udah mau baca :D
0 COMMENTS